Bersama Andespin, David Hidayat Berkarya Melestarikan Mangrove dan Terumbu Karang Demi Ekosistem Pantai yang Berkelanjutan

 

Sebuah keresahan melihat kondisi alam yang mulai rusak atau setelah mengalami sendiri efek dari kerusakan alam sering kali melahirkan kesadaran dan upaya untuk menyelamatkannya. Demikian pula yang dialami oleh David Hidayat. Ia mendirikan sebuah institusi yang juga merupakan wadah bagi komunitas masyarakat di tempat tinggalnya, yaitu Andespin.


David Hidayat dan hutan mangrove yang dikonservasi. (Sumber: IG @andespindeepwestsumatera)


Bersama Andespin ini, David Hidayat memantapkan hati untuk berkarya dengan melestarikan mangrove dan terumbu karang karena ia memahami bahwa ekosistem pantai di tanah kelahirannya ini sangat penting untuk dijaga demi keberlanjutan keberadaannya bagi masyarakat di masa depan.

 

Sepenggal Kisah tentang Kerinduan pada Negeri Minang


Saat mengantar si Sulung ke pondok pesantren di daerah Jombang, Jawa Timur, saya mampir untuk makan siang bersama keluarga di sebuah rumah makan Padang. Sambil menunggu pesanan disiapkan, saya sempat melihat beberapa lukisan bertema alam di negeri Minangkabau yang tergantung di dinding rumah makan tersebut. Saya dibuat tertegun dan terpesona dengan keindahannya. Seketika itu pula saya pun teringat sebuah kenangan bersama salah satu sahabat yang merupakan orang asli Minang.


Pantai di Nagari Sungai PinangRaja Ampat versi Sumatra Barat, (Sumber: IG @andespindeepwestsumatera)


Beberapa tahun lampau sebelum beliau wafat, saya pernah diajak olehnya untuk mengunjungi tanah kelahirannya di Sumatra Barat. Sahabat, yang biasa saya Uni Tin menjanjikan, bahkan menjamin, bahwa saya tidak akan menyesal untuk datang dan menyaksikan sendiri keindahan negerinya tersebut.


Sebagian orang yang pernah berkunjung ke Negeri Minang memang setuju bahwa negeri Minangkabau sungguh indah, baik itu sungainya, pegunungan, bahkan hingga pesisir pantai dan lautnya. Sayangnya, saya tidak akan pernah bisa lagi mengunjungi tanah indah tersebut bersama sang sahabat, untuk selamanya. Namun saya tetap memiliki keinginan besar untuk mengunjungi negeri asal rendang, makanan favorit saya dan menjadi ranking pertama makanan terenak di dunia itu.


Terumbu karang indah yang kian terancam keberadaannya. (Sumber: IG @andespindeepwestsumatera)

Salah satu tempat yang hingga saat ini masih membuat saya penasaran adalah mengunjungi pantai di Nagari Sungai Pinang yang berada di dekat Pulau Mandeh. Pantai ini cukup terkenal dan sering disamakan dengan Raja Ampat versi Sumatra Barat. Tempat ini juga merupakan tanah kelahiran salah seorang penerima penghargaan bergengsi SATU Indonesia Award pada tahun 2022 untuk kategori lingkungan hidup, David Hidayat.


Kiprah David Hidayat yang berasal dari Sumatra Barat ini tentu saja cukup unik dan menarik perhatian saya. Sebagai generasi muda, David adalah salah satu contoh sosok yang peka dan peduli dengan kondisi lingkungannya. Ia juga memiliki kemauan besar untuk memperbaiki serta melestarikan alam yang sesungguhnya memiliki beragam potensi dan telah lama memberikan berkah bagi masyarakat di sekitarnya.


David bersama Andespin melestarikan hutan mangrove di Nagari Sungai Pinang. (Sumber: IG @andespindeepwestsumatera

 

Pantai Indah yang Butuh Dijaga


David yang lahir pada tanggal 28 Agustus 1987 di desa pesisir yang indah di Nagari Sungai Pinang tentu patut bersyukur karena telah diberkati dengan memiliki tempat seindah ini sebagai rumahnya. Namun, ternyata ia pernah memiliki kisah yang membuat dirinya merasa khawatir setelah menyaksikan bibir pantai itu terkikis akibat abrasi dan eksploitasi lingkungan.


David paham bahwa dia tidak boleh berdiam diri karena tempat kelahiran tercintanya menghadapi degradasi ekologis. Masa depan Sungai Pinang, bagian dari Nagari Koto XI Tarusan di pantai selatan Sumatra berada dalam ancaman. Kerusakan hutan bakau dan terumbu karang di sekitar desanya semakin parah sehingga membahayakan ekosistem pesisir, termasuk penghidupan warga setempat.


Menjaga terumbu karang terbaik dunia demi keberlanjutan ekosistem laut kita. (Sumber: katadata.co.id)
 

Padahal, komunitas warga lokal sering kali bergantung pada kayu bakau untuk kebutuhan sehari-hari. Beberapa praktik penangkapan ikan juga telah merusak terumbu karang rapuh yang menopang kehidupan laut. David bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika ekosistem ini—yang kaya akan kehidupan dan keindahan—hilang karena kelalaian manusia.

 

Menjawab Panggilan: Melindungi Garis Pantai


Pada tahun 2009, David merasakan desakan untuk bertindak. Dari tahun 2009 hingga 2015, ia dan rekan-rekan mahasiswa berinisiatif melakukan konservasi di Sungai Pinang, melakukan advokasi terhadap lingkungan, dan memberi edukasi kepada masyarakat setempat. Pada tahun 2015, David mendirikan Andespin Deep West Sumatra—Andespin adalah singkatan dari Anak Desa Sungai Pinang, atau “Anak-anak Sungai Pinang. Kegiatan Andespin meliputi penyelaman, penanaman bakau, dan restorasi terumbu karang.


Andespin bersama Dinas Kelautan menanam 9.000 bibit mangrove untuk Pantai Majunto. (Sumber: IG @andespindeepwestsumatera)


Ketekunan sangatlah penting, dan ketekunan David itulah yang akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 2019, Dinas Kelautan Sumbar memberikan bantuan kepada Andespin sebanyak 9.000 bibit mangrove untuk Pantai Majunto. Kemitraan lokal juga mulai terbentuk sehingga menghasilkan sumbangan 10.000 lebih bibit mangrove. Ia bahkan membuat program penanaman pohon kaliandra sebagai alternatif pengganti batu bara yang juga berfungsi sebagai habitat lebah tak bersengat sehingga membantu menjaga ekosistem.

 

Menginspirasi Komunitas


Kiprah David Hidayat merupakan perwujudan dari pepatah lokal Minangkabau, nan mudo pabimbiang dunia, yang berarti pemuda adalah harapan masa depan. David menyadari akan tanggung jawab generasinya. Ia mulai mendorong warga setempat untuk melestarikan terumbu karang dan hutan bakau, merehabilitasi populasi penyu, dan membudidayakan rumput laut. Awalnya, sepuluh anggota Andespin kesulitan mengelola restorasi skala besar sehingga David meminta sekitar 70 ibu di desa untuk bergabung dalam upaya tersebut. Meski awalnya skeptis, penduduk setempat lambat laun mulai mempercayai niatnya.


Andespin bersama kaum ibu merestorasi pantai. (Sumber: IG @andespindeepwestsumatera)

Bahkan orangtua David sendiri pernah menolak upaya konservasi yang dilakukannya dan mendesaknya untuk melakukan pekerjaan yang lebih “terhormat”. Namun niat David tetap teguh dengan menjelaskan bahwa dia berkomitmen untuk membangun sumber daya alam di tanah airnya.

 

Menumbuhkan Kesadaran Lingkungan dan Manfaat Ekonomi


Saat ini, penduduk Nagari Sungai Pinang mulai menyadari manfaat upaya konservasi. Dengan tumbuh suburnya hutan bakau dan terumbu karang yang sehat, kehidupan laut kembali melimpah sehingga memperkaya hasil tangkapan para nelayan. Penduduk desa juga telah mengembangkan produk ramah lingkungan seperti pewarna alami untuk batik dan kopi dari buah bakau sehingga menciptakan sumber pendapatan tambahan.


Menjaga mangrove kita, menjaga keberlanjutan hidup umat manusia sedunia. (Sumber: indonesiabaik.id)


Andespin juga menyambut wisatawan mancanegara yang senang menanam bakau dan menyelam untuk menjelajahi keindahan bawah laut meski dengan peralatan menyelam yang terbatas. Interaksi ini juga memungkinkan anggota Andespin untuk berlatih bahasa Inggris dan memperkuat interaksi mereka dengan pengunjung.


Salah satu bagian unik dari aktivitas Andespin adalah mendorong anak-anak dan remaja untuk membaca sebagai prasyarat untuk meminjam papan selancar. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan literasi di desa sambil menawarkan akses terhadap kegiatan rekreasi.


Fasilitas menyelam seadanya tidak menyurutkan semangat David dan Andespin. (Sumber: IG @andespindeepwestsumatera)

Pengakuan Nasional untuk David, Sang Penjaga Laut


Dedikasi David yang tekun melakukan upaya pelestarian pesisir pantai ini membuatnya mendapatkan predikat “penjaga lautan dari pantai selatan” dan penghargaan bergengsi SATU Indonesia Award di tahun 2022 untuk kategori lingkungan hidup. Meski bersyukur atas penghargaan tersebut, David juga mengakui bahwa penghargaan ini membawa tanggung jawab yang lebih besar untuk melestarikan dan meningkatkan warisan alam Sungai Pinang untuk generasi mendatang.


Laboratorium berupa taman bawah laut adalah cita-cita David Hidayat. (Sumber: IG @andespindeepwestsumatera)

Salah satu impian jangka panjangnya adalah mengubah hutan bakau menjadi “laboratorium hidup” untuk penelitian dan pariwisata serta membangun taman bawah laut. David bersama Andespin terus melanjutkan misi dan karyanya untuk meninggalkan warisan berupa konservasi dengan visi masyarakat sejahtera dan sadar lingkungan yang akan menjalankan kiprahnya selaras dengan keberlanjutan dan keindahan alam di Nagari Sungai Pinang.

Post a Comment

0 Comments